Jadi beberapa hari yang lalu saya mendengar podcast Kasisolusi dengan narasumber yaitu Pak Wildhan Dewayana yang merupakan direktur utama Laznas Inisiatif Zakat Indonesia.
Saya menyimak bagaimana peran zakat saat dikumpulkan secara kolektif dan dikelola dengan profesional akan menjadi sebuah program yang bermanfaat bahkan bisa jadi jauh lebih bermaslahat ketimbang zakat tersebut dikasih langsung ke Mustahik.
Kalau saya coba bayangkan, jika zakat kita kasih langsung ke mustahik, itu hanya ngesolve problem saat itu saja. Problem apa? utamanya problem kecukupan kebutuhan hidup salah satunya makan.
Apakah sustain? jelasnya tidak. Tapi ketika zakat itu dikolektifkan lalu dikelola oleh lembaga zakat secara profesional maka sangat mungkin itu menjadi sebuah program yang jauh lebih bermaslahat dan bisa menyelesaikan problem utama dari kemiskinan yang terjadi di suatu daerah tertentu.
Katakanlah seseorang yang masuk kategori miskin, tapi dia punya masalah kesehatan harus cuci darah. Maka yang harus disupport full adalah pengobatan cuci darahnya.
Saat kesehatan itu telah diterima sempurna oleh mustahik maka hidupnya bisa jauh lebih produktif dari sebelumnya. Ini jauh lebih mendatangkan maslahat ketimbang sekedar kasih uang untuk mencukupi kebutuhan makannya (problem utamanya tidak tersolve).
Sebagai contoh yang dilakukan Inisiatif Zakat Indonesia yaitu membuat Klinik Hemodialisa. Mereka yang sakitpun dapat terobati dan ini jauh lebih sustain. Karena ini merupakan masalah yang urgent untuk diatasi saat ini.
Lalu menjawab pertanyaan yang ada di judul, bukannya gak boleh kasih langsung ke mustahik, bicara hukum fiqhnya mah boleh-boleh aja tapi bermuamalah jangan berhenti di boleh atau tidak saja. Tahap berikutnya adalah memikirkan apakah ini memiliki dampak baik yang jauh lebih besar atau tidak.
Kalau saya boleh ambil insight Setidaknya ada 3 benefit ketika zakat disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat:
1. Dampaknya Terukur: Banyak lembaga zakat yg saat membuat program membuat kaji dampak. Sehingga program yg dihasilkan bisa jelas output hingga outcome yg diharapkan seperti bisa bangun klinik cuci darah gratis, sekolah, sampai pemberdayaan petani lewat Smart Farm.
2. Multiplier Effect: Uang zakat punya peran untuk meningkatkan daya beli. Saat seseorang menerima zakat ia gunakan itu untuk membeli kebutuhan hidupnya, ekonomi bergerak org yg tercukupi kebutuhannya juga bisa lanjut bekerja dan menghasilkan output ke perekonomian.
3. Ketepatan Sasaran: Lembaga Amil Zakat punya data mustahik yang akurat, jadi gak bakal salah sasaran atau numpuk di orang yang itu-itu aja. Bayangin kalau kita ngasih langsung ke orang bisa saja orang tersebut tanpa kita ketahui sudah dapat dari berbagai sumber.
Oleh karenanya saya sangat mendorong siapapun yang menunaikan zakat segera tunaikan melalui lembaga amil zakat yang Anda percayai dan memiliki dampak program yang jelas mulai dari output hingga outcomenya.
Leave a Reply